Showing posts with label Tenganan. Show all posts
Showing posts with label Tenganan. Show all posts

Ketika Berbicara Tenganan dengan Sejarahnya

Ketika membincang tentang kebudayaan masyarakat Bali Aga, orang biasanya tak akan lupa menengok sebuah desa kuno di wilayah Kabupaten Karangasem ini. Di antara sejumlah desa-desa Bali Aga yang masih bertahan, Tenganan Pegringsingan memang tergolong masih cukup berhasil menjaga keasliannya. Karenanya, Tenganan Pegringsingan pun kerap menjadi ikon dalam perbincangan mengenai kebudayaan masyarakat Bali Aga.
Orang sudah terlampau mengenal Tenganan Pegringsingan, memang. Terlebih lagi desa ini ditetapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karangasem sebagai salah satu objek wisata andalan. Karenanya, saban hari wisatawan, baik domestik maupun mancanagera mengunjungi desa ini.

Orang yang hendak mengunjungi desa ini dari Denpasar mesti menempuh perjalanan sekitar 70 kilometer ke arah timur. Tiba di Candi Dasa, Anda belok menuju ke utara sekitar 3 kilometer. Setelah melewati Desa Pesedahan Anda akan melihat papan ucapan selamat datang di Desa Tenganan.
Tenganan Pegringsingan sejatinya satu di antara sejumlah desa pakraman yang masuk dalam wilayah pemerintahan dinas Desa Tenganan. Desa-desa pakraman lainnya yakni Tenganan Dauh Tukad, Gumang, Bukit Kangin dan Bukit Kauh. Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan sendiri terdiri dari tiga banjar yakni Banjar Kauh di bagian barat, Banjar Tengah di tengah-tengah serta Banjar Kangin/Pande di bagian timur.
Desa Tenganan Pegringsingan berada di sebuah lembah dan diapit oleh bukit dengan luas wilayah mencapai 917.200 ha. Karena letaknya seperti itu, Desa Tenganan Pegringsingan dibuat berundak atau terasering dengan posisi makin ke selatan makin rendah. Tujuannya tentu saja untuk menghidari kikisan air hujan. Di dalam desa juga dibuat saluran limbah atau utilitas lingkungan yang terencana dengan baik seperti adanya boatan, teba pisan dan paluh menuju sungai.
Pemukian di desa ini berpetak-petak lurus dari utara ke selatan dengan luas pekarangan yang sama yakni 2,342 are. Masing-masing rumah dihuni satu keluarga. Tiap-tiap leret rumah dibelah oleh sebuah jalan tanah yang disebut sebagai sebagai awangan. Awangan ini dibatasi oleh sebuah sekolan air.
Ada tiga awangan di desa ini. Ada awangan barat, awangan tengah dan awangan timur. Awangan tengah dan timur lebih kecil, kira-kira setengah dari lebar awangan di barat. Awangan barat kerap menjadi pusat keramaian tiap kali dilaksanakan upacara keagamaan atau adat.
Struktur pembagian tata ruang desa mengikuti konsep Tapak Dara yakni pertemuan antara arah angin kaja-kelod (utara-selatan) yang merupakan simbol segara-gunung (laut-gunung) dan arah matahari kangin-kauh (timur-barat). Pertemuan kedua arah itu dipersepsikan sebagai perputaran nemu gelang (seperti lingkaran) dengan porosnya berada di tengah-tengah. Orang Tenganan Pegringsingan mengenalnya dengan istilah maulu ke tengah atau berorientasi ke tengah-tengah. Maknanya, mencapai keseimbangan melalui penyatuan bhuwana alit (manusia dan karang paumahan atau pekarangan rumah) dengan bhuwana agung (pekarangan desa).
Perkampungan dikelilingi tembok bak benteng pertahanan. Lawangan atau pintu masuk desa berada di keempat penjuru. Orang Tenganan Pegringsingan menyebut konsep penataan ruang desanya itu sebagai Jaga Satru (berjaga dari serangan musuh).
Penduduk Desa Adat Tenganan Pegringsingan hingga tahun 2005 tercatat 215 kepala keluarga (KK) atau 661 jiwa. Umumnya masih berpendidikan SD dan SMP. Namun, sudah banyak juga warga Tenganan Pegringsingan yang mengenyam pendidikan tinggi dan meraih gelar sarjana.
Aktivitas keseharian warga Tenganan Pegringsingan yakni bertani atau pun menekuni usaha kerajinan. Tenganan Pegringsingan memiliki lahan tegalan yang cukup luas yakni 583,035 ha (sekitar 66,41 persen dari luas desa) serta lahan sawah seluas 255,840 ha (25,73 dari luas desa). Lahan itu ada yang digarap sendiri, tetapi umumnya digarap oleh orang luar dan warga Tenganan Pegringsingan hanya menerima hasilnya.
Usaha kerajinan yang ditekuni orang Tenganan Pegringsingan berkaitan erat dengan keberadaan desa ini sebagai desa wisata. Ada yang menenun dengan produksi unggulan kain geringsing, ada yang membuat atta, membuat lontar serta aneka cenderata untuk wisatawan.


Kisah Orang-orang Peneges
Lahirnya Desa Tenganan Pagringsingan berkaitan erat dengan kisah orang-orang Desa Paneges memburu kuda Raja Bedahulu. Desa Paneges diyakini berada di daerah Bedulu, Gianyar, dekat dengan Pura Goa Gajah kini.
Diceritakan, Raja Bedahulu memiliki kuda kesayangan yang bernama Kuda Once Srawa. Tatkala akan melaksanakan yadnya atau upacara, kuda sang Raja menghilang. Padahal, kuda ini bakal digunakan sebagai hewan korban dalam upacara tersebut.
Untuk mencari Kuda Once Srawa, Raja Bedahulu pun menugasi para patih dan prajuritnya yang disebar ke segala arah. Orang-orang Paneges mendapat tugas mencari kuda itu ke arah Timur.
Ternyata, rombongan orang-orang Paneges ini berhasil menemukan kuda sang Raja. Kuda tersebut ditemukan di sebuah hutan lebat yang dikelilingi bukit-bukit kecil. Hanya, yang menyedihkan, kuda yang dikeramatkan itu ditemukan dalam keadaan sudah mati. Tidak diketahui sebab-sebab kematiannya. Tiada bekas luka, tida pula tanda-tanda penyakit.
Penemuan Kuda Once Srawa yang sudah mati itu pun dilaporkan kepada Raja Bedahulu. Sang Raja tentu saja bersedih hati. Namun, raja bijaksana itu tetap menghargai jasa-jasa orang-orang Paneges itu. Sebagai hadiah, mereka diberi kekuasaan atas tempat ditemukannya mayat kuda tersebut dengan luas sejauh bau busuk bangkai kuda itu bisa dicium.
Namun, orang-orang Paneges itu cukup cerdik juga. Bangkai kuda itu pun dipotong-potongnya dan potongan-potongan itu dibawa berkeliling ke segenap penjuru, sehingga wilayah kekuasaan orang-orang Peneges menjadi lebih luas. Sampai akhirnya terdengar sabda dari Dewa Indra, “Sudah cukup!”. Perluasan wilayah pun dihentikan. Tempat terdengarnya sabda Tuhan itu disebut Pengulap-ulapan dan belakangan menjadi sebuah pura dengan nama Pura Batu Madeg karena diyakini sebagai tempat pertama kalinya Ida Batara ngadeg (berdiri).
Di tempat-tempat diletakkannya potongan bangkai kuda itu pun didirikan tempat pemujaan dengan tanda atau simbol berupa batu. Di bagian utara Tenganan Pagringsingan terdapat candi yang menggambarkan kemaluan kuda berdiri tegak. Warga Desa Tenganan Pegringsingan menyebutnya sebagai Kaki Dukun. Tak jauh dari Kaki Dukun terdapat bentuk monolit terbesar yang disebut dengan nama Batu Taikik. Warga Tenganan menganggap ini sebagai bekas cercahan isi perut Kuda Once Srawa. Ada juga Rambut Pule yang berupa onggokan batu-batu kali yang tersusun sedemikian rupa yang dipercayai sebagai bekas kepala kuda.
Di bukit sebelah barat, ada peninggalan yang diyakini sebagai bekas paha kuda dan disebut Penimbalan. Terakhir, di bukit barat laut terdapat Batu Jaran yang diyakini sebagai tempat pertama kalinya Kuda Once Srawa ditemukan.
Awalnya, wilayah yang ditempati orang-orang Peneges itu sampai di pesisir Pantai Ujung. Ini tersurat dalam lontar Usana Bali maupun Prasasti Ujung. Namun, karena terkena abrasi air laut yang parah dan serangan ikan hiu, orang-orang ini pun pindah ke tengah. ingga kini antara warga Tenganan dan Ujung masih memiliki hubungan. Saat dilaksanakan upacara di Pura Segara Ujung, warga Tenganan bakal tangkil.
Perihal nama Tenganan masih belum jelas benar karena ada beberapa versi. Seorang peneliti, R. Goris menyatakan kata Tenganan sudah ditemukan dalam salah satu prasasti Bali dengan kata Tranganan. Kata ini kemudian berkembang menjadi Tenganan.
Peneliti lainnya, V.E. Korn menyebut Tenganan berasal dari kata ngatengahang (bergerak ke tengah). Ini berkaitan dengan cerita berpindahnya warga Tenganan dari pesisir Pantai Ujung mencari tempat lebih ke tengah.
Versi lainnya menyebut Tenganan berasal dari tengen (kanan). Ini berkaitan dengan cerita warga Tenganan berasal dari orang-orang Paneges. Paneges berarti pasti atau tangan kanan.

Kain Gringsing
Ciri khas Desa Tenganan tentu saja kain tenun ikat yang disebut kain gringsing. Karena itu pula, nama desa ini lebih dikenal dengan Desa Tenganan Pegringsingan. Ini untuk membedakannya dengan Desa Tenganan Dauh Tukad atau pun Tenganan sebagai desa dinas.
Tidak diketahui secara pasti kapan kain gringsing mulai muncul di Tenganan Pegringsingan. Tiada diketahui pula siapa yang pertama kali memperkenalkan kerajinan menenun kain ini di Tenganan Pegringsingan.
Yang jelas, menurut Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Tenganan, I Nyoman Nuja, kain gringsing mengandung makna sebagai semacam penolak bala. Ini jika dlihat dari kata gringsing yang berasal dari kata gering yang artinya ‘wabah’ dan sing yang artinya ‘tidak’. Dengan begitu gringsing berarti ‘terhindar dari wabah’.
Namun, Nuja menduga, pada masa kerajaan Bali Kuna dulu kain gringsing diproduksi juga di daerah-daerah lainnya. Hanya saja, hingga saat ini hanya di Tenganan kerajinan tenun kain ini masih terjaga.
Kain gringsing ini sendiri terbilang unik, otentik dan kini amat langka. Benang yang dipakai untuk menenun kain ini berasal dari kapas Bali asli. Selain bahannya yang langka, proses pembuatan kain ini juga terbilang amat rumit. “Bisa dibutuhkan waktu sampai sepuluh tahun untuk bisa menghasilkan selembar kain gringsing berkualitas bagus,” tutur Nuja.
Mula pertama, kapas Bali dipintal menjadi benang. Kemudian, benang itu dibalutkan lalu dicelup untuk mendapatkan warna-warna tertentu. Pewarnaannya sendiri menggunakan warna alam. Warna kuning sebagai warna dasar dibuat dari minyak kemiri. Setelah itu, benang kembali dililitkan untuk dibuat warna biru dari taum (indigo). Setelah berwarna biru, benang itu direndam ke pewarna merah yang terbuat dari akar sunti –satu tanaman yang hanya bisa tumbuh bagus di Nusa Penida— dan kihip selama tiga hari. Selanjutnya, dicuci dan dijemur minimal tiga bulan. Proses ini kembali diulang-ulang hingga tercapai warna yang sebagus-bagusnya dengan warna terakhir yakni hitam. Proses pewarnaan inilah yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Menurut Penglingsir Desa Adat Tenganan Pegringsingan lainnya, Jro Mangku Widia, ada sejumlah motif kain gringsing yakni lubeng, wayang putri, wayang kebo, cecempakan, cemplong, dingding sigading, dingsing ai, pepare, pat likur, pedang dasa, semplang, cawet, anteng dan lainnya. Motif-motif itu sendiri penuh dengan simbol-simbol seperti tapak dara (tanda silang) dan lainnya.
Karena proses pembuatannya yang rumit dan membutuhkan waktu yang lama, harga selembar kain gringsing pun sangat mahal. Untuk ukuran selendang saja harganya sekitar Rp 350.000. Bila lebih lebar lagi, harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah.
“Kain gringsing saya yang sudah robek-robek saja harganya mencapai Rp 25.000.000. Kalau yang utuh, pasti lebih mahal,” tutur Nuja.
Kain gringsing kerap digunakan sebagai pakaian adat saat upacara berlangsung. Saat Usaba Sambah yang jatuh tiap bulan kelima menurut penanggalan Tenganan –biasanya jatuh pada bulan Juni-Juli—para daha teruna (muda-mudi) wajib mengenakan kain gringsing. Kain gringsing inilah yang membuat para generasi muda Tenganan itu tampak bersahaja saat menari Rejang Abuang.


“Awig-awig” dari Abad ke-11
Terjaganya tatanan tradisional kehidupan masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan tak terlepas dari keberadaan awig-awig (aturan adat) yang sangat dihormati dan ditaati warga desa ini. Konon, menurut penuturan para penglinsgir (tetua) desa ini, awig-awig Desa Adat Tenganan dibuat pada abad XI, pada awal-awal desa ini mulai didirikan.
Oleh warga Tenganan Pegringsingan, awig-awig itu dikenal dengan nama “Buku Sakti”. Tebalnya sekitar 58 halaman dan ditulis dalam bahasa Bali.
Namun, seperti diceritakan Mangku Widia, pada hari Kamis Kliwon, Wara Warigadean, Sasih Kadasa, tahun 1763 Saka atau 1841 Masehi Desa Adat Tenganan Pegringsingan mengalami musibah kebakaran hebat. Tak hanya pekarangan desa, tempat-tempat suci, Pura Puseh, Bale Agung hingga surat awig-awig dan surat pamancanggah (riwayat desa) juga ikut terbakar.
Setelah kebakaran, warga Desa Adat Tenganan Pegringsingan menghadap Raja Karangasem, I Gusti Gde Anglurah Karangasem. Kedatangan warga Tenganan ini untuk mohon izin menghadap kepada Raja Klungkung untuk memohon surat awig-awig Desa Adat Tenganan Pegringsingan yang tersimpan di Puri Agung Klungkung.
Raja Karangasem mengizinkan. Bersama I Gde Gurit, orang-orang Tenganan Pegringsingan pun menghadap Raja Klungkung, Ida I Dewa Agung Putra.
Sang Raja agung ternyata menyebutkan di Puri Agung Klungkung tidak ada lagi perihal Desa Tenganan Pegringsingan itu. Awig-awig atau pun surat pamancanggah itu dikatakan sudah diambil oleh orang Tenganan Pegringsingan sendiri.
“Namun, aku izinkan kalian orang Desa Tenganan untuk menulis kembali awig-awig di desa Tenganan sejauh yang bisa kalian ingat” Begitu titah Raja Klungkung.
Titah Raja Klungkung ini kemudian disampaikan orang Tenganan kepada Raja Karangasem. Raja Karangasem pun mempersilakan warga Tenganan menulis kembali awig-awig desanya itu.
Warga Tenganan pun berembuk untuk menulis kembali awig-awig desanya. Untuk penyusunan peraturan itu, warga Tenganan meminta bantuan I Gde Gurit dan Made Gijanjar dengan dimohonkan oleh mangku di bale agung.
“Awig-awig hasil penulisan kembali itu selesai ditulis pada hari Jumat Pahing, Wara Pahang, Sasih Kapat tahun 1764 atau sekitar 1842 Masehi” tutur Mangku Widia.
Pada tahun 1925, awig-awig itu juga masih disempurnakan lagi. Awig-awig hasil penulisan kembali itu masih ditulis dalam bahasa Bali. Namun, terjadi penambahan pasal. Jika sebelumnya berjumlah 58 pasal, awig-awig terbaru memuat 61 pasal. Perihal terbakarnya Desa Tenganan Pegringsingan dan penyuratan kembali awig-awig tersebut diceritakan dalam pasal 24.
Begitulah, awig-awig Desa Tenganan yang telah tersurat sejak berabad-abad silam. Jauh sebelum desa-desa adat lainnya di Bali mengenal istilah penyusunan awig-awig.

Kepemimpinan “Ulu-Apad”
Umumnya, di desa-desa Bali Kuno, penentuan pemimpin adat sangatlah khas. Penentuan pemimpin adat di Tenganan Pegringsingan juga memiliki keunikan tersendiri. Jika di desa-desa adat lainnya di Bali pemimpin desa atau bendesa (ketua) adat dipilih oleh krama (warga), di Tenganan Pegringsingan pemimpin desa ditentukan berdasarkan senioritas.
“Kepemimpinan desa memang tidak dipilih. Bukan juga karena faktor keturunan, bukan keahlian serta tidak memakai masa jabatan. Namun, berdasarkan senioritas yakni nomor urut perkawinannya di desa,” kata Mangku Widia yang juga sebagai Sekretaris Desa Tenganan.
Pemerintahan adat bersifat kolektif. Ada tiga struktur utama pemimpin desa. Pertama disebut Luanan. Ini merupakan penasihat atau penglingsir desa yang diisi oleh keluarga yang memiliki nomor urut perkawinan 1-5. Luanan biasanya hadir ketika sudah selesainya persiapan rapat atau suatu acara.
Struktur kedua yakni Bahan Roras. Posisi Bahan Roras ini terbagi menjadi dua yakni Bahan Duluan yang diisi keluarga dengan nomor urut perkawinan 6-11 dan Bahan Tebenan yang diisi keluarga dengan nomor urut perkawinan 12-17. Bahan Duluan merupakan pelaksana pemerintahan sehari-hari, perencana, pelaksana atau pucuk pimpinan. Pasangan keluarga nomor urut 6-7 disebut dengan nama Tamping Takon (tampi artinya ‘menerima’ dan takon artinya ‘pertanyaan’) yang bertugas untuk menampung atau menjawab segala macam pertanyaan dari krama desa. Sementara keluarga dengan nomor urut-12-17 disebut dengan Bahan Tebenan. Tugasnya sebagai pembantu atau cadangan Keliang Desa.
Struktur terakhir Peneluduan. Lapisan ini merupakan keluarga dengan nomor urut perkawinan 18 dan seterusnya. Seorang dari Peneluduan tampil sebagai Saya atau Juru Warta secara bergiliran setiap bulan. Peneluduan ini pun dibagi lagi menjadi dua yakni Tambalapu Duluan yang diisi keluarga dengan nomor urut perkawinan 18-23 sebagai penggerak dalam segala kegiatan dan Tambalapu Tebenan yang diisi keluarga dengan nomor urut perkawinan 24-29 sebagai cadangan atau pengganti.
Jika seorang Bahan Duluan meninggal dunia atau anaknya menikah, tidak serta merta posisinya digantikan sang anak. Posisi itu akan diisi oleh keluarga di nomor urut berikutnya. Sementara anak Bahan Duluan itu masuk sebagai krama desa dengan nomor urut terbaru.
Enam orang anggota Bahan Duluan secara keseluruhan berperan sebagai Keliang Desa. Dalam keseharian, gabungan Bahan Duluan dengan Bahan Tebenan dengan anggota yang berjumlah 12 orang yang disebut Bahan Roras bertugas sebagai Penyarikan (sekretaris). Tugas sebagai Penyarikan ini dipegang setiap anggota secara bergantian, satu orang setiap bulan.
Sementara gabungan antara Tambalapu Duluan dengan Tambalapu Tebenen yang berjumlah 12 orang disebut Tambalapu Roras, bertugas sebagai Saya Arah atau Juru Warta. Pembagian tugasnya adalah tiap empat orang anggota secara bergantian setiap bulan, mengerjakan tugas sebagai Saya Arah. Kelompok tugas yang lain disebut Peneluduan yang terdiri dari lima orang anggota, mempunyai tugas menjemput anggota Luanan yang berjumlah lima orang untuk mengikuti rapat atau sangkepan di Bale Agung.
Pemerintahan desa adat sehari-hari di Desa Adat Tenganan Pegringsingan dipimpin oleh Bahan Duluan dibantu oleh seorang Penyarikan dan empat orang Saya Arah.
Read more......

‘Geringsing’, Bali’s magic cloth

Enter the windowless red-brick home of I Wayan Gelgel in Tenganan, East Bali, and you walk into a mini museum. Paintings of tropical landscapes, stone busts and kris ceremonial daggers clamor for attention.

What attracts visitors most to this art house, however, are the pale cloths hanging on wooden racks along the wall. This is the geringsing, the traditional textile of Tenganan, a village tucked away in the coastal foothills southeast of the 3,142-meter-high Mount Agung, Bali’s famed active volcano. I Wayan’s house is a weaving studio with sunlight streaming through a square opening in the roof. The sunlight, supplemented by the brightness of an overhead bulb, shines on an elderly woman sitting cross-legged on a white tile floor as she works at a loom.

I Wayan, 45, learned her weaving skills from her mother, Nengah Kunti, the woman at the loom. Nengah Kunti, in turn, learned the craft from her mother.

A single piece of cloth, I Wayan said, can take up to three years to complete. The process is laborious and only plant-based dyes are used, which is why the geringsing is expensive and reserved for special ceremonies, never for daily wear, she said.

The geringsing is woven only in Tenganan. It uses the double ikat (double tie) technique – it is the only type of textile in Indonesia that applies this method. Warp threads run lengthwise or on the vertical in the loom. Weft threads cross the warp on the horizontal. An abstract or geometrical pattern is dyed into the warp and weft threads. An exacting task is ensuring that the pattern on the warp and weft threads meet at a precise point.

The dyes are in natural colors, I Wayan explained, listing the sources of the hues: Indigo blue is made from the taum leaf, maroon is taken from the bark of the sunti wood and yellow is extracted from the oil of the kemiri tree. The dyeing process alone can take months, she added.
Is the geringsing similar to the tie-dye tenun ikat cloth from Flores, Timor and the East Nusa Tenggara island group? “No, the fabrics from East Nusa Tenggara only have a single ikat and use chemicals for dyeing,” I Wayan replied.

What patterns are made?

Nengah Kunti, I Wayan’s 75-year-old mother, rattled off a list: Sanenpeg, cempaka, papare, teteledan, batuntuong, sitanpegat and the lubeng. The lubeng is a multi-studded box pattern that looks like an aerial view of the Borobudur Temple. Each of the four sides of the square then has a triangular spear point protruding outward. These, I Wayan explained, are the four scorpions that protect the walls of the temple.

The sanenpeg is a popular box-within-a-box motif. Earlier in the day, a Dutch woman bought two shawl-size pieces in a sanenpeg for Rp 7.5 million. The most expensive geringsing piece I Wayan has in stock is the papare pattern taken from the pare plant. It took her three years to weave and can damage a buyer’s purse by Rp 10 million. By comparison, a later visit to Ubud, arguably the prime cultural center of Bali, turned up a piece of rolled geringsing in a major art shop priced at Rp 80 million.

On when to wear a geringsing piece, I Wayan explained a baby would be wrapped in one in a ceremony when he or she is three months old.

In a further rite of passage, boys and girls wear it when they reach puberty and have their six upper front teeth filed.

This act is the sadripu, a local belief that the leveling of the six teeth is to ward off six bad behaviors: stealing, lying, stinginess, anger, boastfulness and adultery.

Marriage is another sacred occasion when the geringsing comes out.

In dance, only one dance uses the geringsing for its performers. This is the rejang dance,performed only in Tenganan village, to honor the Hindu god Bhatara Siwa, explained Gusti Sudiasa, a local guide.

What really sets the geringsing apart is the belief in its magic properties. As Gusti Sudiasa explained, a piece of geringsing is placed on one’s shoulders in rituals out of the belief that it can protect the wearer from misfortune.
Read more......

Perang Pandan

The humanity of a society is not just measured by how people treat their friends but how they care for their enemies. But what happens when the lines distinguishing friends from enemies are blurred by cultural dictates? Are bonds of kinship strong enough when tested? These questions are posited in a ritual called perang pandan of the Bali Aga people in Tenganan where males of age of reason, from children as young as seven to men as old as seventy, engage in a bloody duel, every year.






Literally meaning “pandan war”, perang pandan is a man-to-man, or child-to-child battle using a thorny pandan (wild screwpine) leaves bunched into a club, with only a peresai or woven bamboo (?) shield as protection. There are no declaration of winners or losers and one can participate in as many duels as permitted by a council of adults who themselves participate in the rites.

Human as men are, the fights can get heated, resulting to lots of blood and bad temper but somehow after all the lashing and whipping, participants are put into place and acrimony is left on stage. Smiles and embraces are exchanged. Manhood is tested. Civilization survives.

Be early, especially on the 3rd and last day of the perang pandan. The fight started before 2PM, so by 1PM, I already claimed a stake in front of the the stage and soon enough all places would be taken. This, under the heat of noon sun. It would be worth the aggravation as even the sidelights leading to the battle ceremony are worth documenting.
a nervous young boy, psyching himself up for the perang pandan duel in Tengenan, Manggis, Karengasem, Bali, Indonesia (uncropped)

Gradually, as the more than one-hour ritual progressed, the participants would sit around the arena and would block your view. Move backwards and seek higher ground and use a telephoto lens. Otherwise, bring a stool with you, or as other male photographers would do, wear traditional clothes and go bare-chested like the participants so as to gain access to the sacred pavilion overlooking the makeshift stage.
a seriously touch and bloody battle at the perang pandan in Tengenan, Manggis, Karengasem, Bali, Indonesia (uncropped)
Read more......

Tenganan

Tenganan is one of several ancient villages in Bali, which is usually called "Bali Aga." There are several versions about the history of the village Tenganan. Some say the word Tenganan derived from the word "middle" or "ngatengahang" which means "move to the area deeper." The decrease is related to the movement said the villagers from the seaside to a rural area, where the position of this village is in the midst of hills, the West Hill (Bukit Kauh) and East Hill (Bukit Kangin).


Another version says that people from the village of Tenganan Peneges, Gianyar, precisely Bedahulu. Based on folklore, first King Bedahulu lost one of his horse. People look to the East and the horse was found dead by Ki Patih Tunjung Biru, the King's right hand. For his loyalty, the king began granting authority to the Ki Patih Tunjung Blue to manage the area for the smell of carrion horse I smelled. Ki Patih was an intelligent, cut the carrion into pieces and spread it as far as he could. Thus he received a quite large area.


Pegeringsingan words taken from the word "grimace". Geringsing is a traditional woven products which can only be found in Tenganan. Gerinsing considered sacred for the magical power to keep evil or black magic. Geringsing derived from the word "gering" meaning pain and "sing" which means no.

Location:
Tenganan Pegeringsingan located at Manggis district, approximately 65 km from Denpasar (Bali International Airport), near Candidasa and can be easily reached by public transport or private.

Facilities:
Tourists will feel comfortable visiting this area, because many of the available facilities like food stalls, good toilets, store items of art, and a large parking area. If you want to eat at restaurants or stay overnight in this area, you can go to Candidasa, about 3 miles from this village.

Not Celebrating Galungan
When Galungan where Hindus are generally celebrated by holding prayers in the great temple, heaven Three or merajan (paibon), otherwise invisible in the village of Tenganan Pakraman Pagringsingan and Dauh Tukad. Village Pakraman Tenganan not know Galungan, Brass or Nyepi.Memang was also seen people put Penjor Tenganan, as is commonly done in other villages of Hindus in the celebration of Galungan and Kuningan. Even so, as Hindus, they held prayers in the corrected (where the family worship) respectively. However, as we honor the Hindu residents in the next village to celebrate Nyepi. When Nyepi in another village, community Tenganan not out past the village boundary. However, the activity remain to be implemented in a home or end at the village environment Pakraman own.

The uniqueness of customs in Tenganan
This is expected because the village was embraced Hinduism homage to Indra. That, further Sadra who is now coordinator of Gedong Gandhi Ashram, Candidasa, it is seen from the customs as well as some historical evidence that can still be read is stored in Tenganan.Seorang expert from India has also conducted research on the blood of Tenganan Pagringsingan. He said, still visible blood DNA showing the relationship of people Tenganan with residents of one region in India. In Tenganan also knows no such cremation ceremonies in Bali are generally Hindus. When there are people dying, the same day the bodies must be interred or should not be lodged. About a year after a person dies, there is a simple ceremony called muun.

Tenganan is a village that has its own unique retreat, the village is located quite remote and is located in Karangasem regency. To reach this village by road and is about 60km from downtown Denpasar, Bali. The village is very traditional as it can withstand the current era of very rapid change of technology. Although the facilities and infrastructure such as electricity, etc. go to the village of Tenganan, but homes and custom is maintained as the original is still exotic. This is because the Community customs regulations Tenganan have a very strong village, which they call by-awig awig they've written since the 11th century and was refurbished in the year 1842.

Tenganan village has a land area of ​​approximately 1,500 acres, when the sights - the other tourist retreat rapidly growing such as Kuta Beach, Amed Beach, which is very lively with the presence Hotel, Beach, Café, and nightlife.

Tenganan village still standing strong not concerned with changing times to survive with three village hall is dull and traditional houses that lined the exact same one to another. And not only that this village is also maintained by the descendants of marriages between fellow villagers. Therefore Tenganan village remains traditional and exotic, although the Society Tenganan receive input from the outside world but still it will not soon change, because the traditional village rules / awig-awig have a very important role to society Tenganan Village.

To enter the village is very unique Tenganan, before going into Tenganan Village area. We are going through a window, there we are not required to pay. It's because no ticket is sold, but we accept donations whatever we seikhlas into a semipermanent wooden dibangunan officer, before the tourists have to go through a fairly narrow gate which is only enough for one person. Income Tenganan Village residents are also not clear how much income, because there still use the barter system between warganya.disana many plants, rice fields, water buffalo that roam freely dipekarangan them.

To boost their tourism potential, Tenganan many Villagers who sell their crafts to tourists. Artshop also we can see once we stepped foot kepintu in, they sell lots of crafts. Like Woven bamboo, carvings, miniature paintings carved on palm leaves that have been burned, and the most famous is the fabric grimace. The fabric is very unique because we can immediately see at a glance to know if the cloth is handmade.

These include expensive fabrics, and is only produced in the village of Tenganan only. Any time the process takes a long time, since because of the color - the color contained gringsing dikain is derived from plants and require special treatment. Although many tourists are becoming more and more to come this village, but unfortunately they are still less souvenir shopping.

Being in this village we feel safe and peaceful atmosphere, village residents are very welcoming and friendly. We can get around the area of ​​the village and watching the activities of their day to day. The most appropriate time we were there during the afternoon, because in the afternoon they usually Tenganan villagers had their activities. And gathered in front of their homes, and no doubt they go out and gather with other residents. And at this point we can watch and see the behavior and customs of traditional culture they are very thick. Then it is worth if they were called Bali Aga (original Balinese)
Read more......

Mekare Kare – Pandanus Fight at Tenganan


Tenganan Pegringsingan village is a famous place as a history civilization museum Bali. Where’s the community obey to the Awig – awig ( Balinese rules ) such as married only with man or woman in their village, no divorce, traditional architecture of house, thatch roof, and soil fence. This village become one of the Bali Tours direction and culture destination since 1980. There is a unique tradition where mans fight using


Pandanus ” leaves, they called it Mekare-kare. This ritual is presenting to Dewa Indra ( God of War ). They’re believe that long time ago Dewa Indra as delegate of gods success destroy mythical gigantic demon named Mayadenawa. Mekare-kare usually held in Sasih Kelima ( Balinese calendar ), it is around June and July. The participant could be young, old, or children. No preparation for fighting just one thing, courage. Before the fight begins they drink Tuak, Balinese alcohol drink with sweet taste and sour sensation using the banana leaves. This sacred fight use pandanus, green leaves full of sharp thorns on both side and shield from rattan. No cloths covering the body, they only using sarong. Body injuries but no anger no grudge its part of holy ritual. The Balinese medicine made from turmeric, galangal and vinegar to treat the wounds. After the fighting they sit down together enjoy Balinese food and drink as symbol of togetherness and chumminess or called ” Megibung “.

Read more......

Tenganan Pegeringsingan






History:
Tenganan is one of several ancient villages in Bali, which is usually called "Bali Aga". There are some versions of story telling us the history of Tenganan village. Some say that the word Tenganan was derived from the word "tengah" or "ngatengahang" which means "move to the inner area". This derivation of word was having a relation with the movement of the villagers from the seaside to a rural area, in which the position of this village is in the middle of hills, that are western hill (Bukit Kauh) and eastern hill (Bukit Kangin).


Another version reveals that the people of Tenganan came from Peneges village, located in Gianyar, precisely near Bedahulu. Based on the folklore, once upon a time Bedahulu King lost one of his horses. The people looked for it to the east and the horse was finally found dead by Ki Patih Tunjung Biru, the King's right hand. For his loyalty, the King finally gave Ki Patih Tunjung Biru an authority to govern the land as far as the aroma of the carrion of the horse can be smelled. Ki Patih was an intelligent person, so he cut the carrion into pieces and spread it as far as he could. Thus he received a quite large area.

The word Pegeringsingan was taken from the word "geringsing". Geringsing is a traditional woven product that can only be found in Tenganan. Geringsing is noticed to be sacred for the belief that it has a magical power to drive away the evil or the black magic. Geringsing derived from the word "gering" means decease and "sing" means no.

Location:
Tenganan Pegeringsingan is situated at Manggis district, approximately 65 km from Denpasar (the International Airport of Bali). It is near Candidasa and can be easily reached by public or private vehicles.

Facility:
Visitors will feel comfortable when visiting this area, for some facilities are available here, like food stalls, good toilets, arts shops and a quite large parking area. If we wish to have meal in restaurants or to spend the night near this area, we can go to Candidasa, which is only 3 km from this village.

Description:
As an ancient village, Tenganan Pegeringsingan is identical with religious activities. Many temple festivals performed in this village that attract visitors to come. The most famous one is "Mekare-kare" or "Perang Pandan". This is a ceremonial fight or war using thorny pandanous leaves as the weapon. This festival usually takes place in relation to the celebration of "Sasih Kelima" or the fifth Balinese month. Many other uniqueness of custom and culture can be found here that make Tenganan worth to visit.


Read more......